BAB V
“Cinta yang setia itu sudah ada di sekitar kita yaitu cinta dalam bentuk keluarga dan seorang ibu”
Gue gak tau kenapa tiba – tiba kalimat ini terlintas dibenak gue alias kalimat ini baru aja gue ciptain beberapa menit sebelum gue menulis BAB ini.
Kali ini gue mau ngebahas sedikit tentang sebuah keluarga, terserah lo sob mau setuju atau gak dengan kalimat gue diatas karena itu hak lo buat berpendapat.
Ini bermula saat gue baru aja naik kelas II, adik gue bernama Riska ternyata lulus seleksi masuk ke sekolah yang sama tempat gue bersekolah saat itu.
Adik gue ini terbilang anak yang cantik, super gaul dan keras kepala tapi dia masih mau nurut dengan perkataan gue.
Usia gue dan riska hanya berbeda satu tahun jadi kadang gue ngerasa kita kayak anak kembar, gue pernah bertanya – Tanya bagaimana bisa gue Cuma beda setahun dengan adik gue ini tapi setelah gue amati dari cerita saudara dan orangtua gue riska adalah obat pelipur kalau gue gak selamat dan gak bisaa hidup lebih lama.
Kenapa ??? nanya mulu lo kayak tamu :D
Sedikit berkisah tentang masalalu gue sob, seperti yang pernah gue bilang kalo gue ini anak premature, gue lahir saat usia kandungan nyokap gue saat itu kisaran 7 bulan dan saat itu ukuran gue sangat kecil bahkan sang dokter berkata
“kemungkinan anak ibu hidup gak lama, jadi ibu banyak berdo’a aja ya supaya anaknya selamat”
Saat gue dengar cerita itu dari kakak nyokap gue rasanya kayak apa yaa …..
Antara sedih dan bahagia, gue sedih karena gue pernah divonis meninggal dan bakal hidup dalam waktu yang singkat, bahagianya ya pasti karena sampai sekarang gue masih bisa bernafas dan saat gue dengar cerita itu gue yakin allah swt punya rencana buat gue dan yang membuat gue bingung kenapa saat pertama kali gue lahir ke dunia ini gue dapat cobaan dengan keadaan gue saat itu, apa karena allah swt sayang sama gue ??? satu hal yang gue yakin, semua yang terjadi didunia sudah ada dalam perencanaan allah swt bahkan daun yang gugur dari rantingnya.
Wallahualam …..
Tunggu sob gue ambil tissue dulu …..
Lanjut …..
Hari pertama riska di sekolah dia udah dapet banyak teman terutama temen cowok, menurut gue wajar karena adik gue emang cantik.
Punya adik wanita itu gak gampang sob, apalagi gue anak cowok satu – satunya diantara tiga orang adik perempuan gue.
Tugas gue begitu berat buat menjaga ketiga adik gue, bahkan menjaga seorang riska aja kadang gue harus pertaruhin nyawa.
Saat itu malam hari …..
Lewatlah pedagang nasi goreng didepan rumah kami kemudian riska memanggilnya dan saat itu pedagang nasi goreng itu berhenti tepat di kerumunan cowok – cowok yang bisa dibilang gak sopan.
Dasar cowok gak bisa liat cewek cakep, adik gue pun di ganggu bahkan di colek – colek, saat itu gue ada didalam kamar dan gue denger suara riska yang marah kepada cowok – cowok itu.
Gue pun bergegas keluar kamar dan melihat dari lantai 2 rumah dan asli gue panic dan kesal lihat adik gue diperlakuin kayak gitu, tanpa pikir panjang gue pun keluar rumah dan menghampiri mereka dan tanpa basa basi tangan gue melayang ke salah satu cowok yang ada saat itu.
Inilah gue, bukan sok jagoan atau premanisme, gue emang sensitif kalo orang terdekat gue di usik apalagi kalo udah melampauhi batas.
Setelah memberikan satu pukulan dengan harapan mereka kapok dan gak mau menngulangi ulah mereka ternyata cowok yang lainnya sibuk mencari senjata untuk nyerang gue.
Dan saat itu gue sadar masing – masing dari mereka udah megang senjata, ada yang megang besi, batu dan bambu tapi itu gak buat gue gentar karena dibenak gue saat itu adalah walaupun gue harus meregang nyawa setidaknya itu gue lakuin untuk melindungi adik gue.
Kakak laki - laki yang tertua (sulung) kedudukannya sebagai ayah. (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)
Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).
Saat itu gue berpikir apapun yang terjadi malam itu udah menjadi resiko dan tanggungjawab gue sebagai seorang kakak dan saat gue melangkah pulang dengan adik gue tiba – tiba mereka menyerang gue dan perkelahian pun tak terhindarkan dan gue pun pulang dengan mulut yang penuh darah.
Sejauh apapun kita pergi, kemanapun kaki melangkah, keluarga tempat kembali yang terdekat bahkan saat kita kembali diakhirat nanti keluarga tetaplah menjadi tanggung jawab kita.
Seorang ayah akan bertanggungjawab sebagai seorang pemimpin dalam keluarga atas istri dan anak – anaknya, tanggung jawab seorang ayah dan ibu dalam mendidik anak – anaknya dan tanggungjawab seorang anak kepada kedua orangtuanya.
“Sahabat Anas Ra. Pembantu Rasulullah saw. Yang paling tulus dan setia , menggambarkan , “ saya tidak pernah melihat seseorang yang dapat mencintai anggota keluarga-nya lebih besar dari pada rasulullah. “ ( HR. Bukhari )
Dari kisah diatas udah dijelaskan ya sob, bahwa baginda rasulullah itu sangat mencintai keluarga, mencintainya lebih dari apapun.
“ Dan perintahkan kepada keluarga-mu mendirikan shalat dan bersabar -lah kamu dalam mengerjakannya “ ( Ath Thahaa , 20 : 30 )
“Abdullah bin Abbas Ra. Menyampaikan bahwa Rasulullah saw. Berkata , “ Sayangi-lah anak-anak-mu dan berilah mereka pendidikkan yang pantas “. ( HR. Ibnu Majah )
Masing – masing orangtua punya cara berbeda buat bahagiain anaknya tapi kebahagian haqiqi adalah kebahagiaan di akhirat sob, gue emang belum punya keluarga sendiri tapi adik – adik gue adalah tanggung jawab gue saat ini dan mungkin selama gue masih hidup.
Mengajarkan mereka sholat dan mengaji bukan tugas orangtua gue aja tapi itu juga udah jadi tugas gue sebagai seorang kakak, gak ada kan yang mau keluarganya masuk neraka ???
Kalau ada mungkin dia mengalami sedikit masalah di otaknya… hahaha ..
Selain menjalani tugas sebagai seorang kakak, gue pun harus menjalani tugas sebagai seorang anak, apalagi gue anak pertama dan cowok satu – satunya, jadi pembimbing dan contoh yang baik buat adik – adik gue rasanya seperti harga mati yang harus gue tebus.
“Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq’alaih)
Penjelasan hadits diatas adalah : Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka.
Berbakti kepada kedua orangtua itu wajib buat seorang anak karena apapun yang kita lakukan di dunia ini semua bergantung pada ridho kedua orangtua terutama ridho seorang ibu.
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
Gue mau ngajak kalian belajar dari satu kisah nyata di jaman rasulullah tentang betapa penting menjaga hati sang ibu dan betapa kita bergantung pada keridhoannya.
Siap ??? Let’s go
hari ketika sudah dewasa, Alqomah pun memberikan ibunya susu setiap hari, dan selalu membawakan ibunya makanan apa saja yang disukai ibunya.
Pernah tidak kamu seperti itu? membawakan makanan apa saja yang disukai Ibumu ???
Suatu hari, para sahabat berteriak-teriak dan rasulullah mendengar,
"ada apa?", Sabda Rasulullah.
Sahabat berkata, "Alqomah nampaknya menghadapi sakaratul maut, tapi susah, beliau tak juga kunjung meninggal", Jawab sahabat
"kalau begitu panggil ibunya", sabda rasul.
Namun ibu Alqomah tidak mau mengunjungi anaknya, karena hatinya luka, sebab Alqamah termasuk anak yang durhaka. Hal ini disebabkan Alqomah tidak mau lagi melayani bahkan malas menjenguk ibunya.
alqomah lebih banyak waktunya untuk anak dan istrinya, hal ini membuat murka dan sedih hati ibunya.
Sehingga ibunya tidak mau datang ketika Alqomah hampir meninggal, dan hal ini, menjadikan rasulullah bersabda pada para sahabat,
"kalau begitu, biar saja alqomah dibakar."
Mendengar itu, luluhlah hati sang ibu dan akhirnya Alqomah kemudian didoakan oleh ibunya dan Alqomah bisa meninggal dengan tenang.
Gimana sob dengan kisah diatas ??? masih kurang jelas tentang betapa penting ridho orangtua dalam kehidupan sehari – hari kita ???
Mungkin kadang kita khilaf sampai – sampai kita melukai hari orangtua kita, entah itu kepada ayah atau kepada ibu. Tapi karena cinta mereka yang begitu besar mereka selalu membalasnya dengan doa dan harapan agar kita menjadi lebih baik.
Kalian punya adik ??? pasti saat itu kalian tahu bagaiman perlakuan kedua orangtua kalian kepada adik kalian saat mereka masih bayi.
Tanpa kenal lelah orangtua kita merawat kita, waktu kita masih saat tengah malam kita membangunkan mereka dengan tangisan kita karena saat itu kita kehausan, apa mereka marah dan memaki – maki kita ??? gue yakin gak sob, justru ibu kita memberikan asi nya dan ayah berusaha membuat kita tenang dan hangat.
Dan disaat kita BAB, apa mereka merassa jijik membersihkannya ??? dan membiarkan kita yang masih bayi membersihkan diri sendiri ??? jawaban gue masih sama yaitu gak mungkin, tanpa ragu tangan sang ibu membersihkannya.
Tunggu sob, tissue gue habis, gue ke warung beli tisuue….
Oke lanjut …
Kalian udah bisa balas jasa mereka ??? kalo gue sih sampai kapan pun gak akan pernah bisa, yang bisa gue kasih Cuma satu yaitu do’a di setiap sholat gue.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’ (AI-Isra’:24)
Sadar atau gak mungkin selama ini kita udah banyak nuntut ke orangtua kita, menuntut apa yang seharusnya kita dapatkan dari mereka, tapi apa pernah terlintas dibenak kalian
“sudahkah gue memenuhi hak orang tua gue terhadap gue ???”
“Sudahakah gue menjalankan kewajiban gue sebagai seorang anak ???”
Kalian jangan pernah menanyakan kepada kedua orangtua kalian
“ayah, ibu, atau mama papa , kalian bahagia atau gak punya anak kayak aku ???’
Gue yakin jawabannya Cuma satu sob, mereka bakal jawab dengan jawaban
“iya bahagia”
Harusnya pertanyaan itu kalian ganti
“apakah gue udah jadi anak yang sholeh/sholeha yang diakhirat nanti bisa menyelamatkan bahkan membahagiakan kedua orangtua gue ???”
Rasulullah bersabda :
“bila seorang anak adam wafat maka, amalnya terputus kecuali tiga hal yaitu shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan kedua orangtuanya” (HR: Abu hurairah)
Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana penuturan Anas bin Malik ra.,
“Pada Hari Kiamat kelak diserulah anak-anak kaum Muslim, ‘Keluarlah kalian dari kubur kalian.’ Merekapun keluar dari kuburnya. Lalu, mereka diseru, ‘Masuklah ke dalam surga bersama-sama.’ Mereka berkata, ‘Duhai, Tuhan kami, apakah orangtua kami turut bersama kami?’ Hingga pertanyaan keempat kalinya menjawablah Dia, ‘Kedua orangtua kalian bersama kalian.’ Berloncatanlah setiap anak menuju ayah-ibunya, memeluk dan menggandeng mereka; mereka memasukkan orangtuanya ke dalam surga. Mereka lebih mengenal ayah dan ibu mereka pada hari itu melebihi pengenalan kalian terhadap anak-anak kalian di rumah kalian.”(Kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhib an-Nafais, ash-Shufuri, dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dari jalan ath-Thabrani).
Yuk sama – sama kita introspeksi diri jadi anak yang lebih berbakti lagi.
dan dari kisah gue yang kata dokter kemungkinan gue untuk hidup kecil tapi sampai sekarang allah swt mengizinkan gue hidup, gue coba memahami salah satu alasan kenapa allah swt mengizinkan gue hidup yaitu karena allah swt menugaskan gue untuk menjaga ketiga adik gue
Folloow @sobat_wisata di twitter Wassalamualaikum..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar